Interaksi

Umat Hindu Dharma, di Lereng Gunung Arjuno

Menapak sisi Barat lereng Gunung Arjuno, di sana kita akan menjumpai Pura Luhur Giri Arjuno. Tepatnya pura ini berada di Desa Tulung Rejo, Dusun Junggo, Kecamatan Bumi Aji, Kota Batu, Jawa Timur. Setelah melewati Dusun Junggo, jalan menuju Pura diapit kebun apel. Pemandangan Gunung Arjuno yang memukau, menghilangkan rasa lelah sehabis menempuh empat jam perjalanan dari arah Surabaya.

Sesampai di lokasi pura, berdiri Candi Bentar pemisah antara Nista Mandala dan Madya Mandala yang terlihat megah dan istimewa. Di sebelah kiri dan kanan Candi, patung penjaga berdiri tak kalah gagah. Pepohonan hijau yang tersusun, turut menambah keasrian Pura.

Pura Luhur Giri Arjuno sendiri, diusung oleh 80 Kepala Keluarga yang beragama Hindu Dharma. Sebelum Pura ini berdiri, dusun Junggo sudah memiliki Pura Indrajaya dan satu sanggar pemujan. Hari Raya Galungan dan Kuningan dilaksanakan di Pura Indrajaya, sementara Hari Raya Nyepi, Siwaratri, dan Saraswati dilaksanakan di Pura Luhur Giri Arjuno. Di lokasi berdirinya sekarang, di dekat Pura Luhur Giri Arjuno juga berdiri padepokan Pelinggih Hyang Sarip. Saat ini, Pelinggih Hyang Sarip berada tepat di depan Pura. Warga menjaga tradisi, bahwa sebelum memasuki area Pura, setiap yang masuk, diharuskan untuk meminta ijin terlebih dahulu di Pelinggih tersebut.

Sebenarnya, Tulung Rejo memiliki tiga agama besar. Di sana, ada tiga agama yang dianut oleh warga, yaitu Islam, Kristen dan Hindu Dharma. Meski agama yang dianut berbeda, toleransi sesama warga tampak sangat tinggi. Misalnya ketika umat Hindu membangun pura, umat lainnya ikut serta membantu. Baik menyumbangkan tenaga, maupun material mereka. Begitu juga sebaliknya, ketika salah satu agama merayakan hari besar, umat lain turut menghormati. 

Hampir seluruh warga desa Tulung Rejo bermata pencaharian sebagai petani sayur dan petani apel. Jika pagi tiba, para petani tampak berjalan bersama menuju ladang. Bergegas mengurusi kebun apel, memanen bunga kol, memberantas hama dan beberapa kegiatan rutin lain. Semua dikerjakan bersama, sembari menikmati indahnya perbedaan.

Menurut penduduk sekitar, pada tahun 1954 wilayah Desa Tulung Rejo merupakan tanah milik orang Belanda. Petani penggarap menyebutnya sebagai "Tanah Tuan Gebes". Usai era penjajahan, petani-petani penggarap "Tanah Tuan Gebes" mengusulkan agar wilayah garapan tersebut diberi nama Kampung Tegal Sari. Usul itu pun disepakati. Kemudian keabsahannya diajukan ke pemerintahan setempat. Kala itu, pemerintah memberikan dua syarat bagi Kampung Tegal Sari, yaitu kepemilikan sumber air bersih dan tempat ibadah.

Syarat pertama dengan mudah terpenuhi. Namun untuk tempat ibadah, dirasa perlu untuk dibicarakan terlebih dahulu. Akhirnya, warga desa sepakat untuk mendirikan Masjid yang letaknya di tengah Desa Junggo dan Gereja di bagian bawah Desa Junggo, tepatnya di dekat pintu masuk.

Khusus untuk pendirian Pura, terjadi sedikit konflik antara kaum muda dan kaum tua. Kaum muda menghendaki pembangunan Pura di sisi Utara dekat Jembatan Krecek dan di pertengahan perkebunan Tegal Sari atas pertimbangan jarak tempuh warga menuju Pura. Sedangkan kaum sesepuh menghendaki lokasi di atas Kampung Tegal Sari, yakni di sekitar Pedepokan Hyang Sarip. Akhirnya warga mengambil jalan tengah dengan cara memilih tanah lokasi berdasarkan arahan orang pintar atau paranormal yang ada di Bali. Sejak itu, dikirimlah ketiga contoh tanah ke Bali. Dan akhirnya, tanah di sekitar padepokan Hyang Sarip terpilih sebagai lokasi. Ini didasarkan pada energi positif yang dipancarkan oleh tanah tersebut. Selain itu, warga Hindu setempat percaya di lokasi itu terkubur Candi Pawon, bekas peninggalan prajurit Majapahit, yang sampai sekarang masih misterius keberadaannya. 

“Leluhur berpesan bagaimanapun susahnya, apapun tantangannya, walaupun seorang diri, tetaplah menjadi umat beragama Hindu Dharma. Jadi jika bukan generasi selanjutnya, siapa lagi yang akan meneruskan tradisi ?” demikian ujar Mangku Ahmad, salah satu dari lima pemangku yang bertugas di Pura Luhur Giri Arjuno. Mangku Ahmad juga menghimbau, agar umat tetap menjaga eksistensi Hindu, meski kini berada di Lereng Gunung.

Menyikapi sedikitnya umat, warga di sana memiliki aturan tidak tertulis yang berlaku untuk kalangan umat Hindu. Jika menikah, mereka mengharuskan untuk menikah dengan sesama umat Hindu. Namun jika pasangan yang didapat berasal dari umat lain, baik pria maupun wanita, mereka harus menganut agama Hindu. Jika pasangan tidak bersedia pindah agama, maka pernikahan tidak akan dilangsungkan atau dibatalkan oleh warga.

"Jika tidak demikian, siapa lagi yang akan meneruskan tradisi umat di sini ? Khususnya merawat Pura Luhur Giri Arjuno, Pura Indrajaya dan sanggar pemujan," demikian terang Mangku Ahmad. Untuk itu, umat selalu melaksanakan acara rutin guna memperat ajaran agama. Pesantian, dialog agama dengan pemuka agama, kerawitan, serta kegiatan-kegiatan lainnya, terus digerakkan guna mengutamakan kebersamaan di antara mereka. (gtra)

03-01-2011 |